Review

toys with semionaut soup

Apa yang pertama kali muncul di benak ketika mendengar kata “sekaleng sup?” Budi Adi Nugroho mencoba menyuguhkannya dalam ruang seni yang dapat dinikmati siapa saja. “Sekaleng Sup” dalam pemaparan Budi menampilkan tokoh-tokoh dalam balutan budaya pop yang sesungguhnya menyembunyikan idealismenya sendiri.

Berlokasi di Galeri Soemardja ITB, pameran yang bertajuk Toys With Semionaut Soup merupakan pameran tunggal kedua Budi yang mengangkat tema kritik terhadap seni rupa kontemporer. Melanjutkan perjalanan idealismenya dari pameran pertama bertajuk  I Like Contemporary but Contemporary Like it Shiny di tahun 2010 lalu.

Budi membuka pamerannya dengan karya 3 dimensi berupa patung kecil Tin Tin menyeret sang seniman yang tubuh polosnya dilumuri cat biru. Sekaleng sup yang Budi coba hadirkan kemudian menyertakan replika wajah 3 orang seniman Indonesia yang namanya tidak asing lagi, dalam simbol populer kekinian berupa permen Pez. Ketiga kepala yang dipasang disana seolah ingin mengatakan bahwa seniman Indonesia ibarat permen pez: manis dan collectible.

Di seberang ruangan kemudian ditampilkan sekotak besar akuarium berisi ikan hiu yang juga populer, milik Damien Heisct. Di samping akuarium tersebut lagi-lagi terpapar karya-karya persimpangan berbagai simbol semiotik dengan kultur populer yang ditampilkan dalam berbagai ikon.

Melihat keseluruhan karya, sepertinya Budi ingin mempertanyakan integritas seni kontemporer sebagai high-art  dalam balutan karya-karya resin dan fiber mengilap, tak ubahnya sebuah barang souvenir.

Melalui karya-karyanya, Budi Adi Nugroho, seorang seniman penyandang gelar Master di Bidang Seni 3 Dimensi lulusan ITB ini ingin menilik kembali penggunaan resin, fiber dan polesan warna-warna ‘jreng’ penuh kilap pada karya seni kontemporer modern. Seolah karya seni kini telah beralih menjadi karya koleksi, dengan mengesampingkan idealisme dan pengekspresian ‘rasa’ dalam karya. Sesuatu yang di era 80-an begitu kental melekat dalam karya-karya seniman rupa Indonesia.

Pameran dibuka pada tanggal 15 Oktober 2011 lalu disertai bagi-bagi majalah gratis Elle Décor sebagai partner. Pembukaanya menyedot cukup banyak pengunjung. Di malam itu tak kurang puluhan orang datang dan ikut mengapresiasi karya Budi.

Saya sendiri berpendapat pameran Budi menarik. Karena mengusung banyak ikon populer sekaligus tokoh-tokoh seni kontemporer, sehingga terasa dekat dengan keseharian. Misalnya Tin Tin, adalah karakter yang utuh dan kepopulerannya menjadikan karya Budi terasa akrab.

Sedangkan Papadino justru tertarik pada karya yang menampilkan kurator Asmudjo J. Irianto dalam figure Inspector Gadget lengkap dengan perkakas bioniknya. Ia menyebutnya karya yang menarik, tidak saja dari segi eksekusi namun konsep menyamakan kurator kenamaan itu dengan Inspector Gadget, separuh robot separuh manusia. Di karya tersebut, sang kurator yang seringkali memakai frase “seni rupa kontemporer” digambarkan sedang memegang baling-baling dan terbang ala Inspector Gadget. Papadino menilai pameran Budi menarik karena banyaknya simbol yang ditampilkan, memberikan unsur humor dan penuh warna.

Pameran yang akan digelar hingga tanggal 4 November nanti ini ibarat sekaleng sup yang hangat. Terdiri dari bermacam warna, serta mudah dicerna. Pada akhirnya, sang koki menyerahkan sepenuhnya pemahaman ‘rasa’ sup tersebut pada para penikmatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s